Pagi yang cerah, sang surya mulai menyembul dari balik rimbun dedaunan, disambut suara kicau burung bersahutan di sebuah kampung di pinggir sungai bengawan solo. Penduduk desa kala itu sibuk bercocok tanam di sawah, pak tani memulai aktivitas di pagi itu dengan berangkat ke sawah, sang ibu memulai aktivitas dengan menumbuk padi guna dijadikan beras yang akan dimasak untuk dijadikan bekal yang akan dikirim ke sawah.
Sang ibu yang sedang menampi beras di halaman rumah, menghentikan aktivitasnya sejenak karena terperangah ketika mendapati seekor cicak yang hinggap di tampah. Sang ibu berteriak spontan, “Pak.. pak.. ada apa ini pak !..” sang ibu lupa kalau sang bapak saat itu sedang berada di sawah.
“Iyaa bune,..” rupanya sang bapak sedang dalam perjalanan pulang dari sawah ketika mendengar suara istrinya berteriak.
“Pak, ada apa ya ini pak, perasaanku kok gak enak, apa akan ada peristiwa apa ya ini,” tanya sang ibu kepada suaminya.
“Ada apa to bune, sebentar bune, saya seperti mendengar sesuatu,”
Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara tangisan bayi yang menggema, menggema namun terdengar jarang-jarang, suara tersebut sepertinya berasal dari hutan diseberang perkampungan rumah pak tani.
“Bune, seperti suara tangisan bayi bune, bayi siapa itu ditengah hutan,” ucap pak tani
“Ayo pak, diliat pak, siapa tau butuh pertolongan,” jawab bu tani
Kemudian mereka bergegas berjalan menuju tengah hutan.
Sementara di tengah hutan, seorang putri nan cantik jelita sedang menggendong bayi mungil nan tampan. Sang pangeran duduk di sebelah putri dengan raut wajah yang tampak bahagia.
“Dinda, anak kita tampan sekali,” ucap sang pangeran
“Betul kanda, tampan dan pasti nanti kalau sudah besar akan kelihatan gagah seperti engkau kanda,” ucap sang putri sambil tersenyum manis.
“Maaf kisanak, kisanak ini siapa dan berasal darimana, dan bayi siapa ini kisanak?” Pak tani dan bu tani tiba-tiba muncul dari balik pepohonan.
“Oh pak tani, maaf pak saya adalah seorang pangeran dari kerajaan kecil di surakarta, kami sampai disini karena kami sedang berusaha menyelamatkan diri, saat ini di kerajaan kami sedang terjadi peperangan, istri saya sedang hamil besar, dan sekarang bayi mungil kami sudah lahir,” jelas pangeran.
“oh begitu pangeran,” sambil mengangguk angguk pak tani menjawab
“kalau begitu, mari singgah di gubuk kami pangeran, agar putri dan bayinya bisa beristirahat dulu,” bu tani mengajak pangeran dan putri untuk singgah di gubuknya.
“ Baik bu terimakasih, kami ucapkan, dan ijinkan kami meminta tolong kepada bapak dan ibu, mohon bapak dan ibu bisa membantu merawat putri dan bayi kami, karena saya ingin kembali ke kerajaan sejenak untuk membantu raja menyelesaikan peperangan terlebih dahulu,”
“Baik pangeran kami akan merawat putri dan bayi pangeran dengan baik, akan kami anggap seperti anak kami sendiri,” ucap pak tani
Kemudian pangeran meninggalkan putri dan bayinya bersama bapak dan ibu tani.
Kelak dikemudian hari tempat dimana sang putri dan bayi pernah tinggal bersama bapak dan ibu Petani, lahirlah sebuah desa dengan lahan persawahan yang luas dan subur loh jinawi, sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, sebuah desa yang bernama GEMARANG. Berasal dari gema suara tangisan bayi yang terdengar jarang-jarang lahir dari seorang putri yang bernama putri GEMARANG.
Video Sejarah Lahirnya Desa Gemarang yang merupakan pemenang Juara 1 Lomba Video Pendek Asal-Usul Desa: